Monday, August 7, 2017

Sang Istri Berkata, "Selamat Jalan Suamiku"

1. Selamat Jalan Suamiku

Rezy dan suaminya

"Mii, abbi sariawan nih lg g enak makan,," sepulang kerja, suamiku menolak makan masakanku saat itu, padahal aku memasak ayam goreng kremes kesukaannya,, "besok2 masak sayur az ya mi " aku hanya mengangguk tanda meng iyakan" ..

Setiap hari suami selalu mengeluhkan sariawan di lidah nya yang g sembuh2,, sudah 2 minggu lebih,, tapi aku tak terlalu menghiraukan keluhannya, aku pikir itu hanya sariawan biasa seperti pada umumnya.

"Mii, td di kantor ada medical chekup,, ini hasilnya.. " sambil menyodorkan selembar kertas hasil pemeriksaan,, aku ingat betul saat itu bulan april 2016. "kesehatan abbi g ada masalah mi, cuman kata dokter, abbi kurang nutrisi, abbi kurang gizi nih

g diperhatiin ummi, ummi nya sibuk terus sama zuma, hehe" canda suamiku saat itu. memang anakku baru usia 1 tahun, sebagai ibu, aku berasa jd orang yg paling repot karena anakku yang mulai aktif.

Aku memang terlalu sibuk,, sampai tak memperhatikan suami, aku diam saja ketika suami merokok terus2an, aku tak pernah marah ketika suami menolak sarapan pagi yg sudah disiapkan, aku tak pernah marah ketika suami begadang terus2an karena ngobrol di pos ronda dengan bapak2 komplek,, dan akupun tak pernah tau, makanan apa yang dia makan saat di kantor,, makanan sehat kah? Atau bukan... ya.. itulah kesalahan terbesarku...

"Abbi olahraga gih biar sehat,, jalan2 keliling komplek,,"

"Enggak ah mi, abbi lg g enak badan, kepala sakit" saat itu memang weekend, dan suami lebih memilih tiduran seharian sambil nonton tv,,"huh pemalas banget nih suami, disuruh olahraga juga susah" Ucapku dalam hati.

3 minggu berselang tapi sariawan di lidah belum juga hilang. Malah katanya jadi ada sakit di kepala dan telinga. “abbi..besok periksa ke dokter ya, biar diobatin sariawannya..suamipun mengangguk..
Keesokan harinya, suami memeriksakan ke RS JAKARTA, RS yang tempatnya paling dekat dengan kantornya.

Saat itu dokter bilang suamiku hanya kurang makan sayur dan buah, dokter hanya memberi salep untuk luka sariawan di lidahnya. "Kalo 2 minggu belum sembuh, periksa lagi ya" kata dokternya.
2 minggu kemudian suami periksa lagi, karena sariawan masih menetap, "dokternya hanya menambahkan antibiotik. Tapi sampai obatnya habis belum juga ada tanda-tanda kesembuhan.
Kembalilah lagi ke RS untuk memeriksakan, "mungkin bapak ada masalah di giginya, saya rujuk ke dr bedah mulut ya"

Setelah diperiksa dr bedah mulut, dokter menyarankan di rontgen gigi, saat itu hasilnya memang terlihat ada gigi bungsu yang posisinya miring. "Ohh, sariawan bapak karena ada gigi bungsu yg mau tumbuh, tp posisinya abnormal, mungkin itu penyebab bapak sariawan dan sakit kepala terus menerus, giginya harus di oprasi, harus di ambil ya pak..

Bulan juni 2016, saat awal bulan ramadhan, suami tak puasa karena akan di operasi gigi, di cabutlah gigi yang selama ini mengganggu,, seminggu berlalu, sariawan masih menetap.. sakit di kepala makin menjadi. " mi, abbi sakit nelen, sakit kepala makin sering, kenapa ya padahal giginya udah di cabut, terus lidah abbi jd g bisa digerakin ke kiri" "besok periksa ke dokter lagi ya bii, sekalian kontrol gigi"

"Giginya udah g ada masalah ya pak, kalo keluhan bapak sakit kepala, baiknya bapa periksakan ke dr syaraf ya" kata dr bedah mulut saat itu,, diperiksalah suami ke dr syaraf, hanya diberi obat anti sakit.. dokterpun menyarankan fisioterapi lidah karena lidah yang tak bisa di gerakan ke kiri, 6 kali pertemuan fisioterafi dan tak ada perubahan..

Dokter menyarankan pemeriksaan MRI, perkiraan pemeriksaan MRI saat itu sekitar 5-6 juta dan tak bisa dicover asuransi

"periksa MRI nya nanti saja ya mii, bentar lagi kan kita mau mudik, lumayan uangnya buat bekal mudik ke tasik".

Hari idul fitri... suami lebih memilih tiduran di kamar dan tak ikut bersilaturahmi ke rumah sanak saudara, sakit di kepala semakin sering,, hari raya hanya dihabiskan dengan beristirahat tiduran di kamar..

Liburan lebaran pun telah usai, bersiaplah kita kembali ke ibukota..

"Mii sebelum kita ke jakarta, ummi lepas KB nya ya, abbi pengen zuma punya ade",,, " duh bii, baru anak satu az ummi udah repot, gimana kalo nambah" .. "biarin, nambah anak nambah rezeki, abbi pengen punya banyak anak, hehehe"

Kesal memang, tapi aku pun menurut, di lepas lah KB IUD yg setahun tertanam di rahimku..
"Mii, koq di lidah abbi jd ada benjolan, coba liat mii"

Benar,, ada benjolan kecil sebesar biji jagung di lidah yang ada sariawannya, "besok ke dokter lagi ya bi",,

"Sejak kapan benjolannya ada pak" tanya dokter.

"Baru 3 hari dok"

"Sakit gak?" Sambil memencet benjolannya

"Enggak dok enggak sakit, tp kalo sariawannya masih sakit dok, menelan jg jd sakit,kepala juga makin sering sakit"

"Harusnya bapak di periksa MRI biar tau sakitnya dari mana, kalo benjolannya ini kemungkinan tumor jinak, bagaimana kalo di oprasi benjolannya terus nanti kita periksakan hasilnya"


Suamiku hanya mengangguk, tanda setuju..

Awal agustus 2016, aku menemani suami di oprasi di RS JAKARTA,, zuma aku titipkan pada mamahku, ketika tau kabar suami mau di oprasi, mamah langsung berangkat ke jakarta..

Operasi berjalan lancar, 3 jam lamanya,,

"Ini istrinya pak Andrie? Operasinya sudah beres, ini benjolan yg sudah diambil mau diPA-kan dulu ya, hasilnya nanti 10 hari lagi..

Tanggal 13 agustus 2016, kami kembali menemui dokter, dokterpun menyampaikan hasilnya dan juga hasil PA dari laboratorium.

“bapak usianya berapa tahun?”

"28 dok"

"Sudah punya anak?"

"Sudah, baru usia setahun dok".

Dokterpun menghela napas panjang...ada perasaan tak enak saat itu.

"Hasil pemeriksaannya kurang bagus, bapak positif terkena KANKER LIDAH,

Dek.. seolah detak jantungku berhenti “KANKER…Dok?”

Tiba-tiba mataku jadi gelap, sebuah beban berat serasa menindih badanku. Aku diam dan tak bisa berkata apa-apa, lama aku terdiam.

“Kanker..?” tanyaku,
tapi kalimat itu tak mampu terucap hanya bersarang di kepalaku. Sebuah penyakit yang selama ini hanya aku kenal lewat informasi dan berita-berita, kini penyakit itupun menghampiri orang terdekatku orang yang paling aku sayangi. Penyakit yang menakutkan itu menyerang suamiku.

Kutatap wajah suamiku, suamiku hanya terdiam, pucat...
bapak saya sarankan berobat ke RS DHARMAIS, karena disana rumah sakit khusus menangani penyakit seperti bapak, harus cepat ya pak, sebelum kankernya menyebar kemana2.

Segera kuambil surat pengantar dokter dan menuju RS DHARMAIS.

Sungguh tak pernah terpikirkan sedikitpun sebelumnya, kini kami berada dalam deretan orang-orang penderita kanker di ruang tunggu pasien. Aroma kecemasan bahkan keputusasaan tergambar di wajah mereka. Sebenarnya ini juga saya rasakan, tapi saya harus menyembunyikan raut ini di hadapan suamiku. Aku harus tetap menyuguhkan energi penyemangat padanya.

Serangkaian pemeriksaan kami lakukan, lab, usg, rontgen, ct scan, bone scan.

"Dari hasil pemeriksaan, 3/4 lidah bapak sudah terkena kanker, bapak harus di oprasi di angkat lidah" kata dokter nya..

Ya Allah… apa lagi ini? Diangkat lidah? Kenapa harus suamiku yang mengalaminya? Kami pun pulang dengan perasaan yang tak tentu, nanti kita periksa ke RS SILOAM ya bii, kita cari second opinion"

Esoknya kita periksa ke RS SILOAM,, dokter melakukan endoskopi, memasukan kabel kecil yg ada kameranya melewati lubang hidungnya,, terlihat jelas kamera menangkap gambar di monitor.

"Wahh, kanker nya sudah menyebar ke tenggorokan pak"

Memang terlihat banyak benjolan merah di dekat pita suara.

"Kalo boleh tau sudah stadium berapa dok?"

"Kalo ini sih sudah stadium 4"

"Terus gimana dok? Tanyaku lirih,,

“Nanti bapak harus menjalani pengobatan kemoterapi 3 kali, langsung radiasi selama 30 kali.”

Wajah suamiku putih pucat, dia hanya terdiam, terbayang beratnya derita dan kelelahan yang harus dialami suamiku. Belum lagi dengan kombinasi pengobatan kemoterapy yang melemahkan fisik. Keluar dari ruang dokter seolah semuanya jadi gelap, rasanya aku tak kuat menahan segala beban ini.

Segera aku beri kabar keluarga dan teman-teman dekatku, aku kabarkan keadaan suamiku dan kumintakan do’a dari mereka. Tak terasa bulir-bulir bening air mata bermunculan disudut mataku.
dengan langkah lemas tak bertenaga seolah aku melayang, tulang-tulang terasa tak mampu menyangga badanku yang kecil ini, aku melihat anakku yang masih berusia 1 tahun, dia tersenyum ceria, ia tak mengerti beban berat


BERITA LENGKAP DI HALAMAN BERIKUTNYA

Halaman Berikutnya